“Maka
bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka keni`matan
hidup ber-tahun-tahun, Kemudian datang kepada mereka azab yang telah
diancamkan kepada mereka, nis-caya tidak berguna bagi mereka apa yang
mereka selalu menikmatinya.
Mendengar ayat ini Maimun bin Hasan langsung gemetar dan pingsan.
Apakah
yang pelajaran yang dapat kita tarik kisah singkat diatas? Maimun bin
Mahran meskipun ibadah dan amalannya terjaga masih memerlukan nasehat
dan merasa curiga kepada dirinya dan menganggap dirinya masih lalai.
Ketika dibacakan Al Qur’an menjadi-jadilah kesadaran hatinya bahwa isi
Al Qur’an itu ditujukan kepada dirinya dan menyentuh kepada kalbunya
yang paling dalam. Bukankah Allah Swt telah berfirman,
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama
Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka
ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah
mereka bertawakkal,
(Qs An Anfaal :2)
Saudaraku yang dirahmati Allah.
Patut
kita pertanyakan kepada diri kita, apa yang terasa bagi kita ketika Al
Qur’an dikumandangkan pada pembukaan acara, ketika menjelang shalat
Subuh atau Jum’at dan lebih ironis lagi ketika dikumandangkan di rumah
duka. Pada waktu itu firman Allah berlalu begitu saja, sudah tidak
faham dan ditambah dengan hati yang lalai dan akibatnya sikap dan
tindakan kita juga menyimpang dari tuntunan Allah Swt. Jangankan untuk
mendengarkan ayat-ayat suci diam sajapun tidak dapat dilakukan bahakan
sibuk dengan canda dan tawa dan menghisab rookok tanpa merasa apapun
Ada
fenomena yang menarik lagi, yaitu ketika kita mendengar ceramah atau
khutbah bila dijelaskan isi Al Qur’an dan hadits Rasulullah Saw. Isi
ceramah tersebut berkisar tentang pujian, peringatan dan ancaman
terhadap manusia. Penekanan khusus lagi tentang orang yang suka ghibah,
orang munafik dan orang yang curang. Ketika mendengar kita setuju dan
terkesan sekali dengan penjelasan penceramah. Tetapi pada saat yang
bersamaan kita mempersepsikan bahwa firman Allah tersebut ditujukan
kepada orang lain, bukan kepada kita. Dan seakan kita bersih dari
ghibah, kemunafikan dan kecurangan, dan kita tidak berani untuk
menyatakan firman Allah itu mengenai tentang kelakuan kita sehari-hari.
Mari kita ambil beberapa contoh.
Ghibah/Bergunjing.
Allah Swt berfirman,
“janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.
(Qs Al Hujuraat : 12).
Mendengar
surat ini dijelaskan dengan segera kita membuat persepsi bahwa
peringatan itu hanya untuk wanita atau orang lain. Beranikah kita
mengakui bahwa bergunjing adalah bagian dari kehidupan masa kini, dan
kita terlibat di dalamnya baik secara langsung atau tidak Dimana-mana
orang bergunjing di dalam majelis, arisan dan lebih dahsyat di media
cetak dan media elektronik.
Munafik.
Allah Swt berfirman
ππππππππππ
Sesungguhnya
orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan
mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan
malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan
tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali
(Qs An Nisaa 142).
Apa
persepsi sebagian orang tentang ayat ini, tentu ayat ini peringatan
untuk orang munafik bukan untuk saya. Seandainya ada orang bertanya
kepada kita, apakah anda orang munafik, tentu kita akan menjawab “tidak”
dan mungkin akan marah dengan pertanyaan ini. Tetapi jika disesuaikan
lagi dengan apa yang disabdakan Rasulullah Saw tentang orang munafik,
bahwa ciri orang munfik itu ada empat yaitu, (1) jika dipercayai ia
berkhianat, (2) jika berkata ia berdusta, (3) jika berjanji ia
berkhianat, (4) jika ia berselisih ia berbuat jahat. Dengan kriteria ini
lebih jelas bagi kita untuk klasifikasi orang munafik, mungkin termasuk
kita Dan berhati-hatilah jangan menjadi orang munafik karena Allah
sangat keras mengancam,
“Allah mengancam orang-orang munafik
laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam.
Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah
melaknati me-reka; dan bagi mereka azab yang kekal (Qs At Taubah 68)
Curang.
Allah Swt berfirman.
“Kecelakaan
besarlah bagi orang-orang yang curang, Sekali-kali jangan curang,
karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin. (Qs
Al Muthaffifiin : 1).
Dan Syu`aib berkata:
"Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan
ja-nganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan ja-nganlah
kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Qs Huud :
85).
Peringatan tentang curang
dan kejahatan dalam persepsi kita para pedagang dengan timbangannya.
Sebenarnya kalau kita menelisik tentang kecurangan dan kejahatan itulah
panorama kehidupan masa kini. Para pegawai curang dengan berbagai
dimensi seperti mengurangi waktu kerja dengan terlambat datang dan cepat
pulang, apalagi dibidang keuangan. Bukan tidak mungkin suami mencurangi
isterinya atau sebaliknya isteri mencurangi suami. Itulah yang terjadi
masa kini. Bacalah, dengarkanlah berita hari ini dimedia elektronil
dan media cetak tidak pernah sepi pemberitaan dari korupsi, penipuan,
perselingkuhan. Yang aneh segera kita berkomentar ini tidak baik tetapi
sebaliknya kita adalah bagian dari pelaku.
Saudaraku yang selalu mendapat hidayah dari Allah.
Dengan
penjelasan uraian diatas, hendaknya diperhatikan bahwa tuntunan dan
ancaman di dalam Al Qur’an adalah untuk seluruh manusia termasuk kita.
Jika ada peringatan, hati ini jangan lalai dan waspada terus menerus.
Kita dapat mengambil pelajaran dari Abu Bakar ash Sidiq, beliau yang
sudah di jamin syurga oleh Rasulullah Saw masih bertanya kepada sahabat
apakah masih ada kelalaian pada dirinya. Demikian juga isteri nabi yang
bernama Siti Aisyah juga masih menyatakan dirinya termasuk salah satu
orang yang dhalim padahal beliau salah satu manusia yang telah di jamin
masuk syurga. Bagaimana dengan kita yang belum ada jaminan apa-apa masuk
syurga dan masih perlu dihisab?
Untuk ini
mari kita perhatikan pesan Ibnu Qoyyim Al Jauziah, “ Jika anda ingin
mengambil manfaat Al Qur’an, bulatkan hatimu tatkala membaca dan
mendengarkan, pasang telingamu, hadirkan hatimu rasakan dengan siapa
yang engkau ajak bicara, siapa yang dituju oleh firman Allah,
sadarilah yang dituju adalah anda melalui lisan Rasulullah Saw. Allah
Swt berfirman,
“Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang
mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia
menyak-sikannya.
(Qs Qaaf : 37)
Dan kita tutup dengan doa
"Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan
sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami
rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi
(karunia)."
Wallahu a' lam bish showab.


0 komentar:
Posting Komentar